Senin, 29 November 2010

MATA AIR AIR MATA KUMARI: Kesedihan seorang gadis yang berakhir petaka, review Noviane Asmara

Buku Mata Air Air Mata Kumari ini sebenarnya adalah kumpulan cerita pendek dari seorang Yudi Herwibowo, yang kesemua ceritanya, kecuali Anak Nemang Kawi, sudah pernah dimuat di berbagai media, yaitu; Femina, Kumpulan Cerita Cinta Pertama, Buletin Sastra Littera, Seputar Indonesia, Suara Merdeka, Jurnal Sastra Pendar, Buletin Sastra Pawon dan Wawasan. Sebuah prestasi yang membanggakan tentunya.
Dalam buku ini terdapat 14 cerita pendek. Anehnya, walaupun judul buku ini adalah “Mata Air Air Mata Kumari”, tetapi cerita Mata Air Air Mata Kumari ini, berada di bab 12. Entahlah, pertimbangan apa yang dipilih, sehingga cerita yang merupakan judul buku, diletakkan hampir di bagian belakang buku.
Tapi memang saya akui, dari keempat belas cerita yang ada di dalam buku ini, saya sangat terpesona dengan kisah Mata Air Air Mata Kumari ini. Karena itu, saya memilihnya untuk saya resensikan.
Kumari. Mungkin kata itu tidak akrab di telinga kita. Kumari berasal dari bahasa Nepal, yang berarti Dewi Perawan, gadis kecil yang dipilih berdasarkan waktu kelahiran oleh pihak Istana Nepal, untuk bertugas memberi berkah pada masyarakat setempat. Masa tuigasnya berakhir saat menstruasi pertama.
Cerita yang mengambil sudut pandang Aku ini, ditulis memakai kata-kata puitis, sehingga membentuk rangkaian kalimat yang indah dan bermakna dalam yang tersaji dalam narasi bak puisi. Dialog yang terjadi di sini tak lebih dari sepuluh dialog saja. Dan hal ini menjadikan ceritanya lebih kuat.
Terkisah seorang kumari yang diusir dari istananya setelah bertahun-tahun memberi berkah bersama pendeta istana terhadap orang-oarang yang selalu datang kepadanya. Ia diusir karena dianggap telah ternoda. Kata pelacur, menjadi predikat baru yang diberikan orang-orang kepadanya.
Dalam masa pengusirannya, bukit gersang adalah tujuannya. Tanah mati yang tak menghendaki kedatangan siapa pun. Ia datang dengan begitu hancur. Tubuh penuh dengan guratan merah darah di sana-sini, baju yang terkoyak hingga nyaris telanjang. Hanya lukisan agni chakcuu samar di keningnya yang memberitahu kepada alam sekitar, bahwa ia adalah seorang kumari. Tak ada yang dapat ia lakukan di bukit gersang itu selain duduk merenung, terpuruk dalam kesedihan dan menangis. Sampai ia tak pernah lagi berhenti menangis sejak itu. Matanya yang seharusnya bening, kini memerah bercabang-cabang, begitu menakutkan, namun terus meneteskan air…
Kesedihan dari seorang gadis yang dulu begitu disanjung dan dipuja. Dan bahkan sebelum genap berumur 4 tahun sudah menjadikannya seorang kumari. Karena keindahan sosoknya yang begitu mudah memenuhi 32 battis lakshanas.
Tangisannya terus menggema. Hingga danau yang terbentuk lama-lama mulai mengalir ke bawah, membentuk aliran sungai menuju ke perkampungan.
Kini, tempat di mana orang-orang pernah mengusirnya mengalami kekeringan, setiap hari mereka bersujud meminta hujan dan mengais-ngais tanah berharap menemukan mata air.
Saat orang-orang mengetahui bahwa sumber air yang telah menyelamatkan kehidupan mereka dari musibah kekeringan itu ternyata berasal dari air mata kumari yang telah mereka usir, alih-alih berterima kasih, mereka membunuhnya dengan cepat dan keji. Sebuah tombak melayang tajam menembus lehernya. Ia tersungkur dengan darah yang mengotori danau. Dan kemudian lepaslah napasnya.
Tapi ia meninggalkan sesosok makhluk yang tak berdosa yang tiba-tiba muncul dengan sendirinya. Menggeliat-geliat perlahan, mencoba membebaskan diri dari tubuh sang ibu.
Bayi tersebut begitu cantik mewarisi wajah sang ibu. Dengan wajah halus, sehalus pualam paling sempurna. Dan matanya yang seharusnya bening, terlihat air yang menggenang di sana, seolah-olah menangisi kematian ibunya. Dan sejak saat itu pula, sang bayi pun tak pernah berhenti menangis.
Saya terharu akan kesedihan bayi itu. Lewat matanya yang bening itulah sebuah pembalasan datang dan menghukum orang-orang yang telah membuat ibunya menangis.
Pembalasan seperti apa yang bisa dilakukan seorang bayi?
Ketika selesai membaca cerita pendek ini saya jadi berandai-andai. Andaiklan kisah Air Mata Mata Air Kumari ini dijadikan sebuah pertunjukan teater, pasti akan terlihat begitu menawan dan menyentuh rasa. Karena saat membacanya pun saya begitu mudah berbaur dan merasuk kedalam ceritanya, seolah-olah Aku itu adalah saya, yang melihat langsung kejadian mengenaskan itu. Ditambah penyajian ceritanya seperti susunan puisi yang terus berkesinambungan.

1 komentar:

Alvin Rehardian mengatakan...

Bahas tentang kumari lagi bang