Rabu, 18 Januari 2017

Rilis Pelajaran Kincir Angin - Kumpulan Puisi Lasinta Ari Nendra Wibawa & Kinanthi Anggraini


Pelajaran Kincir Angin - Kumpulan Puisi Lasinta Ari Nendra Wibawa & Kinanthi Anggraini


Kumpula Puisi Lasinta Ari Nendra Wibawa & Kinanthi Anggraini
Ukuran : 13.5 x 20,5 cm
Isi : 160 halaman kertas bookpaper 57 gram
Cetakan I, 2017
Genre : Puisi
ISBN: 978-602-0947-55-6

mencintaimu dengan setulus-tulusnya, wahai angin
sama halnya mencintai kawan kaum papa lagi miskin
sebab dinding-atap serupa mimpi yang paling ingin
saat takdir memaksanya jadi nakhoda tanpa kabin

tak pernah kukutuk bibir yang menyebut baling-baling
meski kehidupan bermula dari angin yang memusing
bukan mesin yang berulang-ulang mencumbui bearing
atau pembakaran fosil yang kini berwajah asing

kami menyandarkan hidup dari tiupan demi tiupan
lalu bekerja menghela dua roda yang bersinggungan
seperti ladang subur dengan bibit yang disebarkan
namun rutin kami sirami meski tiada hujan
    (Pelajaran Kincir Angin, Lasinta Ari Nendra Wibawa)


sementara, kau bercerita tentang jatuhnya pesona
pada kaki yang membawamu ke suatu desa
dengan mata penuh surga aku bertanya
dengan mulut mentega kau menjawabnya
"ketujuh sinar itu membawaku kemari
ke dalam persinggahan gubuk seorang peri"

setelahnya, kau membujukku untuk mengetahui
di manakah ujung lengkung yang kau cari
seketika kubukakan pintu microwave air terjun
penuh dengan bulir tepung terigu yang turun
tersedia meja kelapa dan kursi vanili
dalam piring fla putih, sepotong roti tersaji
dengan lapis sungai butter di setiap sisi
dan lelehan hujan krim tersusun rapi
­­    (Pada Piring Fla Vanila, Kinanthi Anggraini)

Kamis, 21 Juli 2016

Selama Batang Balangan Masih Mengalir...., komik Anton WP



Komikus: Anton WP
Ukuran : 10.5 x 21 cm
Isi : 32 halaman kertas BC Putih 150 gram
Cetakan I, 2016
Genre : Komik Sejarah
Harga 25.000 IDR 

Sekilas Sejarah
Wilayah Kesultanan Banjar pada mulanya meliputi wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Namun, Belanda yang sejak akhir abad ke-18 ingin menguasai kekayaan bumi Kalimantan kemudian melakukan berbagai cara dan tipu daya hingga Sultan Banjar saat itu, Sultan Sulaiman, menandatangani perjanjian dengan Belanda pada 1817. Isi perjanjian tesebut adalah penyerahan sebagian wilayah Kesultanan Banjar kepada pihak Belanda, yaitu daerah Tanah Laut, Kotawaringin, Mundawai, Lawai, Dayak, Jalai, Bakumpai, Pasir Kutai, Sintang, Beran, dan Pigatan. Wilayah Kesultanan Banjar kala itu hanya tersisa di daerah Banjarmasin, Martapura, dan Hulu Sungai.
Menyempitnya wilayah kekuasaan membuat penghasilan Kesultanan Banjar menurun dan terpaksa mengandalkan sektor agraris. Kesultanan Banjar yang dulunya terkenal sebagai negeri maritim akhirnya menjadi sangat tergantung pada pajak dari rakyat.
Banua Lima yang bertanah subur, padat, dan makmur penduduknya merupakan lumbung padi kesultanan dan sumber pajak terbesar. Pajak yang kemudian dinaikkan hingga dua kali lipat membuat rakyat menderita dan memicu pemberontakan rakyat yang dipimpin Jalil.
Kedatangan Pangeran Hidayat dan Pangeran Antasari kemudian mengubah  pemberontakan yang mulanya hanya menentang penguasa Banua Lima ini menjadi gerakan perlawanan terhadap penjajah Belanda. 

Tentang Komikus
Anton WP tinggal dan bekerja di Balangan. Ia menyukai menulis dan menggambar. Kartun pertamanya dimuat di Serambi Indonesia Minggu ketika ia duduk di kelas 3 SMP. Setelah itu beberapa kartunnya dimuat di koran harian terbitan Aceh itu, majalah Ceria Remaja, dan Majalah Humor. Pernah menerbitkan komik indie yang diperbanyak secara fotokopi dan mengikuti acara pekan komik dan animasi di Jakarta dan Malang. “Selama Batang Balangan Masih Mengalir…” merupakan komik pertamanya. 
Email : bung_anton@yahoo.com